Pengertian Pelayanan prima ( Excellent service ) adalah suatu pelayanan
terbaik dalam memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan. Artinya pelayanan yang
memenuhi standar kualitas. Pelayanan yang memenuhi standar kualitas adalah
suatu pelayanan yang sesuai dengan harapan dan kepuasan pelanggan / masyarakat.
Penerapan pelayanan prima yang dapat memberikan kepuasan kepada kolega
dan perlanggan pada dasarnya mempunyai manfaat sebagai berikut :
- Dapat menciptakan komunikasi yang positif dan harmonis antara
perusahaan bisnis dengan kolega dan pelanggan.
- Dapat mendorong bangkitnya rasa simpatik dan loyalitas dari para
kolega dan pelanggan.
- Dapat membentukopini publik yang positif, sehingga menguntungkan bagi
kemajuan perusahaan.
- Dapat menimbulkan profitabilitas perusahaan, sehingga
mendorongdihasilkan produk baru yang berkualitas.
- Dapat membina hubungan yang baik dan harmonis dengan para kolega dan
pelanggan.
Pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan kepuasan pelanggan. Sebab
tujuan penerapan pelayanan prima untuk memenuhi kepuasan pelanggan.
1. Paradigma pelayanan sepenuh hati
Apa yang bisa membuat perhatian dan kualitas pelayanan yang kita ber
ikan pada pelanggan selalu prima? Dr.Patricia Patton dalam bukunya Service With
Emotional Quotient menyebutkan bahwa pelayanan sepenuh hatilah yang bisa
membedakan kualitas pelayanan suatu perusahaan
dengan perusahaan lainnya. Menurut Dr. Patricia Patton diperlukan tiga
paradigma pengikat yang bisa menjadikan pelayanan biasa yang kita lakukan
menjadi istimewa. Yaitu :
a. Bagaimana kita memandang diri sendiri
Sebelum kita dapat menghargai orang lain,dalam hal ini adalah pelanggan
kita perlu memberikan perhatian dan penghargaan pada diri sendiri: pada
kemampuan kita, pada pengetahuan kita, pada keteram pilan kita, dan pada
penampilan kita. Jika kita sudah bisa menghargai diri sendiri, sebagai pribadi
yang istimewa, maka kita akan membangun motivasi dan rasa percaya diri yang
tinggi untuk menghasilkan yang terbaik bagi orang orang di sekitar kita,
termasuk pelanggan yang kita layani. Antusiasme kita yang tinggi akan
memancarkkan kepribadian yang positif sehingga banyak orang suka bekerja sama
dengan kita. Harga diri tidak diukur dari apa yang kita miliki dan apa
pekerjaan kita. Apa pun bisnis kita, apa pun pekerjaan kita,jika kita
menghargai keberadaan kita sebagai bagian penting dalam bisnis tersebut,maka
otomatis kita akan berusaha maksi mal untuk selalu tampil prima, termasuk juga
dalam memberikan pelayanan pada pelanggan.
b. Bagaimana kita memandang orang lain
Kita perlu melakukan hubungan yang emosional secara positif deng an
orang-orang yang berhubungan dengan bisnis kita dan dengan apa pun yang kita
kerjakan.Kita tidak boleh meremehkan ataupun mengang gap mereka rendah.
Sebaliknya, kita perlu menghargai keberadaan mereka. Kita perlu menyadari bahwa
dalam hidup, kita harus saling mem bantu dan saling menolong sehingga kita
menganggap orang lain itu juga penting. Untuk orang-orang yang kita anggap
penting, pasti kita akanberusaha untuk melakukan sesuatu yang terbaik untuk
mereka. Sehingga orang-orang akan merasa apa yang kita kerjakan istimewa karena
mem beri manfaat bagi mereka. Sebaliknya, mereka pun akan menghargai usaha
kita, dan percaya bahwa apa yang kita lakukan pasti untuk tujuan kebaikan,
bukan sebaliknya.
c. Bagaimana kita memandang pekerjaan
Selain menghargai diri sendiri, dan orang lain, kita juga perlu meng
hargai pekerjaan ataupun bisnis yang kita lakukan. Jadi, kita perlu memilih
bisnis ataupun pekerjaan yang kita anggap penting dan khusus. Dengan cara
pandang seperti ini kita dapat menambah nilai pekerjaan kita dengan melakukan
pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati dan penuh perhatian Kita tidak ragu
menganggap pekerjaan dan bisnis kita sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
kita. Orang yang mengang gap pekerjaannya penting dan bermanfaat akan memiliki
motivasi yang tinggi dan antusias me yang luar biasa untuk mempersembahkan yang
terbaik dari pekerjaan dan bisnis yang ditekuni, termasuk memberikan pelayanan
prima yang diberikan dengan sepenuh hati.
Setelah mengetahui paradigma pengikat untuk memberikan pelayanan
sepenuh hati (yang bisa kita terapkan tidak hanya dalam konteks bisnis, tetapi
juga dalam konteks lain dalam kehidupan kita), langkah berikutnya adalah
menanamkan sikap yang diperlukan dalam memberikan pelayan an prima.
2 Sikap dalam memberikan pelayanan sepenuh hati
Selanjutnya, Dr. Patricia Patton mengemukakan bahwa nilai sebenarnya
pelayanan sepenuh hati terletak pada kesungguhan empat sikap P, yaitu
Passionate (gairah), Progressive (progesif), Proactive (proaktif), dan Positive
(positif) dari orang-orang yang bertanggung jawab memberikan pelayanan
tersebut.
a. ”Passionate” (Gairah)
Kita perlu memiliki gairah untuk menghasilkan semangat besar terhadap
pekerjaan, diri sendiri dan orang lain. Antusiasme dan perhatian yang kita kita
bawakan pada pelayanan sepenuh hati akan membedakan bagaima na kita
memandang diri sendiri dan pekerjaan. Dari tingkah laku dan cara memberi
pelayanan kepada para konsumen, konsumen akan mengeta hui apakah kita
menghargai mereka atau tidak. Gairah berarti mengha dirkan kehidupan dan vitalitas
dalam pekerjaan. Jika kita memiliki gairah hidup yang tinggi, kita cenderung
akan memberikan pelayanan dengan senyum, vitalitas, dan antusiasme yang akan
menular kepada orang-orang yang kita layani, sehingga mereka akan merasa senang
bekerja sama, berbisnis dan berkomunikasi dengan kita.
b. ”Progressive” (Progesif)
Dalam memberikan pelayanan sepenuh hati, kita perlu senantiasa beru
saha menciptakan cara-cara baru yang lebih efektif, lebih efisien, dan lebih
menarik untuk meningkatkan kualitas pelayanan kita. Kita tidak akan pernah puas
dengan hasil yang kita dapatkan, untuk itu kita akan selalu berusaha mencari
cara-cara kreatif untuk mempersembahkan yang lebih baik. Pekerjaan apapun yang
kita tekuni, jika kita memiliki gairah dan pola pikir yang progesif, kita akan
mampu menjadikan pekerjaan kita lebih menarik. Sikap progresif ini bisa kita
kembangkan jika kita memiliki pikiran yang terbuka, wawasan yang luas, kemauan
belajar tinggi, keberanian menghadapi perusahaan, dan tidak membatasi diri pada
cara-cara memberi pelayanan yang monoton (terus-menerus sama, dari waktu
kewaktu).
c. ”Proactive” (Proaktif)
Nilai tambah pelayanan sepenuh hati adalah alasan yang mendasari
mengapa kita melakukan sesuatu bagi orang lain. Pelayanan ini diberikan karena
ada kepedulian dan itu akan membuat perubahan bagi konsumen kita. Membiarkan
konsumen kebingungan dan berjalan mondar-mandir mencari bantuan bukanlah sikap
yang produktif. Walaupun konsumen tersebut tidak mendekati kita dan bertanya
kepada kita (mungkin karena malu, atau tidak tahu kepada siapa harus bertanya),
kita bisa terlebih dahulu mendekati mereka dan bertanya kepada mereka
barangkali saja kita bisa membantu mereka. Sikap proaktif ini juga dapat kita
pupuk dengan senantiasa bekerja lebih dari sekedar apa yang seharusnya kita
lakukan dan secara aktif berupaya menemukan caracara baru untuk menambah makna
dan rasa cinta pada pekerjaan dan bisnis yang kita tekuni.
d. ”Positive” (Positif)
Bersikap positif mendorong kita untuk tidak mudah patah semangat atas
masalah yang kita hadapi. Bersikap positif membimbing kita untuk lebih fokus
pada penyelesaian bukannya pada masalah. Berlaku positif sangat menarik,
karena sikap ini bisa mengubah suasana dan menebar kegairah an pada hampir
semua interaksi dengan konsumen. Berlaku positif berarti menyambut hangat para
konsumen,dan melayani pertanya an dan permin taan mereka dengan sepenuh hati.
Bersikap positif akan memancarkan keyakinan kita kepada konsumen, bahwa kita
mampu
memberikan jawab an bagi pertanyaan mereka, dan memberikan solusi atas
semua masalah yang mereka hadapi. Salah satu cara sederhana yang ampuh yang
bisa kita lakukan adalah memberi pelayanan dengan senyum, karena senyum an
adalah bahasa universal yang positif yang dipahami semua orang.
Pelayanan sepenuh hati merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan
dari kesuksesan seseorang, baik dalam bisnis ataupun dalam kehidupan
sehari-hari. Kita bisa mengajak seluruh jajaran yang terlibat dalam bisnis kita
untuk memberikan pelayanan sepenuh hati, yaitu dengan cara meng ajak seluruh
karyawan(termasuk pimpinan)untuk mengubah cara pandang terhadap diri
sendiri,orang lain dan pekerjaan,dari cara pandang negatif, menjadi cara
pandang positif dan apresiatif. Selanjutnya, dengan cara pandang yang baru ini,
bersamasama kita bisa mengembangkan empat sikap yang menunjang suksesnya
memberi pelayanan sepenuh hati. Dengan kombinasi yang harmonis antara cara
pandang dan sikap ini, pelayanan sepenuh hati bisa kita pupuk, (Sinar Harapan
2003)
3 Unsur-Unsur Pelayanan Prima
Apapun pelayanan kepada masyarakat tentunya telah ada suatu ketetap an
tata laksananya, prosedur dan kewenangan sehingga pene rima pelayanan puas apa
yang telah diterimanya. Sehubungan dengan itu pelayanan kepada masyarakat harus
mempunyai makna mutu pelayanan yang :
1. Memenuhi standar waktu, tempat, biaya, kualitas dan prosedur yang
ditetapkan untuk penyelesaian setiap tugas dalam pemberian pelayanan.
2. Memuaskan pelanggan artinya bahwa setiap keinginan orang yang
menerima pelayanan merasa puas, berkualitas dan tepat waktu dan biaya
terjangkau.
a. Unsur-unsur kualitas pelayanan antara lain :
1. Penampilan.
Personal dan fisik sebagaimana layanan kantor depan (resepsionis)
memerlukan persyaratan seperti : wajah harus menawan, badan harus tegap / tidak
cacat, tutur bahasa menarik, familiar dalam perilaku, penampilan penuh percaya
diri, busana harus menarik
2. Tepat waktu & janji.
Secara utuh dan prima petugas pelayanan dalam menyampaikan perlu
diperhitungkan janji yang disampaikan kepada pelanggan bukan sebaliknya selalu
ingkar janji. Demikian juga waktu jika mengutarakan 2 hari selesai harus
betul-betul dapat memenuhinya.
3. Kesediaan melayani.
Sebagaimana fungsi dan wewenang harus melayani kepada para
pelanggan, konsekuensi logis petugas harus benar-benar bersedia melayani kepada
para pelanggan.
4. Pengetahuan dan keahlian.
Sebagai syarat untuk melayani dengan baik, petugas harus mempunyai
pengetahuan dan keahlian. Disini petugas pelayanan harus memiliki tingkat
pendidikan tertentu dan pelatihan tertentu yang disyaratkan dalam jabatan serta
memiliki pengalaman yang luas dibidangnya.
5. Kesopanan & ramah tamah.
Masyarakat pengguna jasa pelayanan itu sendiri dan lapisan masyarakat
baik tingkat status ekonomi dan sosial rendah maupun tinggi terdapat perbedaan
karakternya maka petugas pelayanan masyarakat dituntut adanya keramahtamahan
yang standar dalam melayani, sabar, tidak egois dan santun dalam bertutur
kepada pelanggan.
6. Kejujuran dan kepercayaan.
Pelayanan ini oleh pengguna jasa dapat dipergunakan berbagai aspek,
maka dalam penyelenggaraannya harus transparan dari aspek kejujuran, jujur
dalam bentuk aturan, jujur dalam pembiayaan dan jujur dalam penyelesaian
waktunya. Dari aspek kejujuran ini petugas pelayanan tersebut dapat
dikategorikan sebaga pelayanan yang dipercaya dari segi sikapnya, dapat
dipercaya dari tutur katanya, dapat dipercaya dalam menyelesaikan akhir
pelayanan sehingga otomatis pelanggan merasa puas. Unsur pelayanan prima dapat
ditambah unsur yang lain.
7. Kepastian hukum.
Secara sadar bahwa hasil pelayanan terhadap masyarakat yang berupa
surat keputusan, harus mempunyai legitimasi atau mempunyai kepastian hukum.
Bila setiap hasil yang tidak mempunyai kepastian hukum jelas akan mempengaruhi
sikap masyarakat, misalnya pengurusan KTP, KK dllbila ditemukan cacat hukum
akan mempengaruhi kredibilitas instansi yang mengeluarkan surat legitimasi
tersebut.
8. Keterbukaan.
Secara pasti bahwa setiap urusan / kegiatan yang memperlakukan ijin,
maka ketentuan keterbukaan perlu ditegakan. Keterbukaan itu akan mempengaruhi
unsur-unsur kesederhanaan, kejelasan informasi kepada masyarakat.
9. Efisien.
Dari setiap pelayanan dalam berbagai urusan, tuntutan masyarakat adalah
efisiensi dan efektifitas dari berbagai aspek sumber daya sehingga menghasilkan
biaya yang murah, waktu yang singkat dan tepat serta hasil kualitas yang
tinggi. Dengan demikian efisiensi dan efektifitas merupakan tuntutan yang harus
diwujudkan dan perlu diperhatikan secara serius.
10. Biaya.
Pemantapan pengurusan dalam pelayanan diperlukan kewajaran dalam penentuan
pembiayaan, pembiayaan harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat dan
pengeluaran biaya harus transparan dan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
11. Tidak rasial.
Pengurusan pelayanan dilarang membeda-bedakan kesukuan, agama, aliran
dan politik dengan demikian segala urusan harus memenuhi jangkauan yang luas
dan merata.
12. Kesederhanaan.
Prosedur dan tata cara pelayanan kepada masyarakat untuk diperhatikan
kemudahan, tidak berbelit-belit dalam pelaksanaan.
b. Empat karakteristik Pelayanan Prima
Ada empat karakteristik yang dapat disikapi oleh pemimpin bisnis dalam
hal pelayanan prima yang dapat memberikan nilai tambah pada perusahaan.
1 Mudah dan cepat.
Pada prinsipnya pola serta sistem pelayaan itu harus didesain
sederhana, mudah dipahami baik oleh pelanggan maupun karyawan sendiri. Hal ini
dapat saja dilengkapi oleh kecanggihan teknologi namun mudah dalam terapan
tanpa menunda waktu.
2 Keterbukaan.
Buatlah pelanggan merasa diperhatikan secara tulus/tanpa pamrih dan
terbuka, tidak seperti diakal-akali. Hati-hati, proof is a reality not a
promise. Artinya pegang teguh segala janji dan iming-iming secara
konsisten dan penuh komitmen. Akhir-akhir ini banyak ditemui, slogannya megah
serta mewah. Iklannya tampak menjanjikan. Namun pada akhirnya setelah
dibuktikan oleh rasa dan kasat mata semua itu bersifat palsu. Hanya tampak
cantik di permukaan atau kosmetik belaka.
3 Perhatikan kepada kebutuhan
Perlu ketrampilan menyimak dan merasakan apa yang sebenarnya diinginkan
oleh pelanggan. Perlu ketrampilan, kesabaran, dan pemahaman sehingga bisa
memberikan respons jitu kepada pelanggan.
4 Keakraban
Buat pelanggan merasa dihargai dan merasa dihormati. Tinggal pilih mana
pelanggan yang perlu banyak basa-basi atau yang maunya to the point,
tapi tidak meniggalkan hal-hal penghargaan.

Jakarta Time
0 comments:
Post a Comment